The God of Small Things oleh Arundhati Roy
Kisahnya dimulai dari akhir. Seorang perempuan dewasa kembali ke rumah masa kecilnya di Ayemenem, Kerala—rumah tua yang sunyi, nyaris runtuh, tapi penuh gema masa lalu. Di sanalah kenangan yang lama tertutup debu mulai tersibak kembali. The God of Small Things bukan tentang revolusi atau perang besar, meskipun latarnya sarat ketegangan sosial dan politik. Ini cerita tentang batas-batas yang dibangun manusia: kasta, patriarki, cinta terlarang. Sebuah dunia di mana hal-hal kecil justru membawa dampak besar. Dan di tengah itu semua, ada Estha dan Rahel—si kembar yang terluka diam-diam. Buku ini tidak mudah. Beberapa kali saya hampir menyerah—terutama ketika berharap akan ada keadilan yang ditegakkan, penjahat yang menerima ganjaran, atau akhir yang membawa kelegaan. Tapi itu bukan janji yang diberikan Roy. “ Sudah, kembali saja kamu ke peti es ,” gerutu saya kesal. Dan tetap saja saya lanjut membaca. Karena ada sesuatu dalam cara Roy menulis yang membuat saya tak bisa berhent...